[go: up one dir, main page]

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11K tayangan3 halaman

Roti Tawar dan Kenangan Ayah

Diunggah oleh

seimaniamoy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11K tayangan3 halaman

Roti Tawar dan Kenangan Ayah

Diunggah oleh

seimaniamoy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ROTI TAWAR

Setangkup roti tawar yang tersaji di meja makan menampakkan lelehan pasta selai
kacang. Itu kombinasi yang paling kugemari. Meskipun ada pilihan lain, seperti
selai nenas, stroberi, atau keju lembut.

Dalam seminggu aku sarapan roti tawar sedikitnya empat hari. Bahkan sesekali
aku membawanya ke kantor dalam kotak makanan yang terbuat dari plastik. Pada
pukul sepuluh, saat perut belum sepenuhnya lapar, biasanya aku tergoda untuk
membuka bekal dan menggigit roti tawar itu dengan perasaan iseng.

“Boleh minta separuh?” suatu saat Nila memergoki.

Aku memotong bagian yang tak tersentuh gigiku. “Suka selai kacang?”

Selasa. Mungkin hari ini dia akan mengenakan setelan baju ketat dengan celana
panjang atau justru rok mini. Ah, mengapa serentak hatiku berdebar? Aku mandi
melupakan air dingin, sambil menggosok tubuhku lebih teliti ketimbang kemarin.

Ketika aku memasukkan empat tangkup roti tawar dengan aneka rasa itu (satu di
antaranya diisi taburan cokelat) ke dalam tempat yang terbuat dari plastik dengan
ukuran lebih besar, tebersit keraguan. Bagaimana aku membawa turun dari mobil
dan masuk ke dalam lift bersama karyawan lain di gedung 12 lantai itu? Bisa jadi
menimbulkan pertanyaan yang agak menggoda: “Mau piknik ke mana, Seto?”

Aku harus tiba lebih awal, saat lift masih kosong. Tapi keraguan kedua muncul.
Jangan-jangan, pada pukul sepuluh nanti, tidak ada rapat seperti kemarin,
sehingga tentu banyak kawan-kawan lain di sekitar kami. Aku duduk berderet
dengan karyawan lain. Bagaimana mungkin ’mengundang’ Nila ke mejaku? Atau
aku yang mendatanginya? Itu justru semakin tidak mungkin, menenteng tempat
roti ke wilayah sekretaris, yang berdekatan dengan tempat duduk direktur, bukan
pada jam istirahat pula.

Tentu nanti ada akal! Aku pun pamit kepada Ibu dan mengurungkan niatku untuk
menyampaikan peristiwa kemarin karena sedang mengejar waktu. Pandangan Ibu
agak heran dengan bekal yang kubawa.

“Seto, kamu tidak akan ke luar kota, kan?”

“Oh, tidak. Kebetulan aku belum sarapan, sekalian untuk makan siang.”

“Apakah tidak ada kantin di kantormu? Kamu pernah cerita ada tempat makan
yang selalu ramai.”
Aku mulai gelisah. “Kadang-kadang pekerjaan sangat padat, membuat aku harus
tetap berada di tempat.”

Ibu tersenyum. Mungkin karena bangga terhadap cara kerjaku. Atau karena
memergoki alasan yang kurang masuk akal? Atau hanya ingin terpingkal lantaran
sejak kecil aku begitu menyukai roti tawar?

“Hati-hati di jalan.” Pesannya sewaktu kucium tangannya. “Apakah di kantormu


tidak ada gadis cantik yang menjadi teman kerjamu?”

Aku nyaris tersengal. Apakah sebaiknya kuceritakan sekarang? Mungkin tak cukup
seperempat jam. “Ada. Tapi tidak kenal dekat. Nanti malam kuceritakan pada Ibu.”

Aku segera berlalu sebelum bertambah banyak pertanyaan. Percayalah, nanti


malam kuceritakan. Aku sedang mencoba mempertaruhkan hari ini. Sebagai
tanda dibukanya kembali pintu hatiku.

Sepanjang perjalanan, banyak hal melintas di kepala. Ingatan yang berlompatan,


mendesak untuk tampil di ruang benakku. Beberapa nama yang sempat tertanam
lama meskipun telah jauh berlalu. Saling tumpang-tindih awalnya, kemudian
mulai tersusun seperti sebuah peristiwa yang diputar ulang.

Wajah sumringah. Aku menanti berdebar, siap berebut tempat jika Nila masuk ke
dalam lift. Namun yang terjadi, Nila berjalan lurus menuju seorang laki-laki yang
berdiri di depan meja resepsionis.

“Hai, tepat waktu kamu!” ujar Nila pada laki-laki itu. Lalu mengucapkan terima
kasih pada Sofie, resepsionis yang memanggilnya melalui telepon internal.
Perasaanku ciut. Kekasih atau suaminya?

Kami bersama-sama menunggu lift yang selalu penuh di kala jam makan siang.
Aku tersenyum kepada Nila. Ia membalas senyumku, tapi seperti lupa kejadian
kemarin. Aku tentu tak bermaksud mengingatkan, apalagi di depan laki-laki lain.
Entah kenapa, aku bersyukur Nila tak memperkenalkan temannya itu. Dan entah
kenapa, sewaktu pintu elevator terbuka, aku tak ikut masuk ke dalamnya. Aku
memilih lewat tangga darurat.

Dalam perjalanan pulang ada yang kurasakan hilang. Tapi seperti biasa aku tetap
singgah di toko roti langganan. Lama aku berdiri, sampai seorang pramuniaga
mengambilkan roti tawar kegemaranku. “Oh ya, terima kasih. Tapi satu saja.”

Ketika tiba di rumah, Ibu sudah menunggu di meja makan dengan wajah yang
tampak segar. Aku tersenyum dan mengatakan hendak mandi dulu. Isah
menyambut roti tawar yang kubawa seraya bertanya: “Besok pagi mau bawa
berapa tangkup?”
“Seperti biasa satu saja. Isi selai kacang.”

Aku pun mandi dengan perasaan ngungun. Ibu masih di meja makan begitu aku
selesai mengenakan baju rumah.

“Ibu buatkan kopi, agar letihmu hilang.”

“Wah, terima kasih.” Aku pun duduk di depannya.

“Kamu janji mau ceritakan sesuatu, bukan?”

Kini aku gelisah. Kemudian mencoba mencari cangkir baru. “Kopinya dibagi dua
saja.” Aromanya begitu wangi menyergap hidung. Mengingatkan harum kopi Nila
kemarin pagi.

Dengan cara yang sungguh mumpuni, Ibu menuang kopi dari satu cangkir ke
cangkir lainnya tanpa tumpah setetes pun. Hebat! Mungkin sebelumnya sudah
biasa melakukannya. Terhadap Ayah, semasa masih hidup. Eh, bukankah Ayah
sudah lama tiada? Tentu sudah lama pula Ibu tak membagi secangkir kopi menjadi
dua.

“Bagaimana tentang perempuan kawan kerjamu?” tanya Ibu.

“Boleh aku minum kopi dulu?” aku mengulur waktu. Aku pun menyeruput, dan…
ah! Aku menahan lidahku dalam geletar.

“Pahitkah?” tanya Ibu. Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Atau justru harus
kubenarkan? “Ayah tak pernah minum kopi manis. Itu yang membuat ayahmu
kuat, tabah, dan tak mudah putus asa untuk mencapai keinginannya.”

Mungkin kah Ibu menyindirku? Kini aku harus lebih dulu mengajukan pertanyaan.
“Sebenarnya sejak kapan aku gemar roti tawar?’

Ibu nyaris tertawa mendengar pertanyaanku. Mungkin kedengaran aneh. Tapi aku
serius ingin tahu. Kadang-kadang terpikir, apa enaknya roti tawar? Kata ’tawar’
boleh jadi membuat perasaanku selalu tawar. Kata ’tawar’ menyebabkan segala
yang kulakukan berada dalam keragu-raguan: selalu dalam keadaan tawar-
menawar. Sedangkan kopi pahit, sebagaimana kata Ibu, membentuk seseorang
menjadi kuat, tabah, dan tidak putus asa. Nila menyukai kopi pahit seperti Ayah!

“Pasti Ibu ingat, kapan aku mulai menyukai roti tawar?”

Kini Ibu benar-benar tertawa.

Jakarta, 15 Agustus 2004

Anda mungkin juga menyukai