[go: up one dir, main page]

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
2K tayangan11 halaman

Legenda Si Jampang: Perjuangan dan Keberanian

drama theater jampang

Diunggah oleh

Jenifer Gloria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
2K tayangan11 halaman

Legenda Si Jampang: Perjuangan dan Keberanian

drama theater jampang

Diunggah oleh

Jenifer Gloria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SENI TEARTER:

NASKAH DRAMA CERITA RAKYAT

Si Jampang

Disusun oleh:

Jenifer Gloria Pasaribu

XII-7 (16)

SMAN 113 JAKARTA

TAHUN AJARAN

2024/2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga makalah ini dapat saya selesaikan dengan baik. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas dalam mata pelajaran Seni Teater, dengan
mengangkat cerita rakyat Si Jampang

Seni teater merupakan media yang sangat efektif dalam menghidupkan


kembali cerita-cerita rakyat yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan moral.
Melalui makalah ini, saya sebagai siswa SMAN 113 ingin menggali bagaimana
cerita rakyat dapat diadaptasi ke dalam bentuk teater, serta bagaimana proses
tersebut dapat mempertahankan dan menyebarluaskan warisan budaya kepada
generasi mendatang saya harap bapak mendukung penilaian makalah yang telah
saya kerjakan, awkali lagi saya mengucapka syukur dan terimakasih kepada Bapak
telah memberi saya kesempatan untuk mengerjakan makalan Seni Theater ini.
A. JUDUL

Si Jampang

B. Tema

Keberanian, Keadilan, dan Perjuangan melawan penindasan.

C. Dialog

Pada suatu saat ada seorang anak laki-laki, anak laki-laki itu dinamakan
Jampang. la lahir di desa Jampang Sukabumi Selatan. Bapaknya berasal dari
Banten dan ibunya berasal dari desa ]ampang. Anak laki-laki itu tinggal di rumah
pamannya di Grogol Depok. Pamannya sangat sayang kepadanya, selain
keponakan, anak laki-laki itu juga yatim piatu yang memerlukan perlindungan.
Sang paman membawa Jampang dari desa Jampang ke Grogol Depok. Dirumah
pamannya, Jampang dibesarkan. Jampang diperlakukan sebagai anak sendiri. Agar
]ampang memiliki ilmu, bekal hidupnya, oleh pamannya ia disuruh mengaji pada
seorang guru ngaji di Grogol Depok. Jampang juga disuruh belajar ilmu bela diri
oleh pamannya. Pamannya berkata….

Adegan 1

Paman : Pang, Lu mesti punya kepandaian silat, karena menegakkan


kebenaran tanpa kekuatan adalah sia-sia.

Jampang : Aye mang ! ( jawab Jampang penuh rasa hormat )

Paman : Lu ikut mamang ke Cianjur, lu belajar silat disana ama kenalan


mamang.

Jampang : Aye sih pegimane mamang.

Selain belajar silat, ]ampang membantu guru silatnya, Jampang membantu


menanem padi, merapikan rumah. Ditempat guru silatnya, Jampang
memperlakukan diri sebagai anak, tidak berpangku tangan. Guru silatnya menjadi
sayang, dan dengan rela hati mengajarkan semua kepandaian yang dimiliki
termasuk ilmu kebatinan.
Setelah Jampang menyelesaikan menuntut ilmu silat, ia kembali ke Grogol
Depok. Guru silatnya berpesan kepadanya agar ilmu yang didapatnya jangan
digunakan untuk berbuat kejahatan. Jampang mengangguk setuju, kemudian
mencium tangan guru silatnya mohon izin meninggalkan Cianjur kembali ke
Grogol Depok

Guru Silat : Pang! Salam aye buat mamang lu.

Jampang : Aye, Guru.

Jampang kembali ke rumah Mamang di Grogol Depok. Dari Cianjur Jampang


berjalan kaki melewati jalan setapak naik turun perbukitan menuju Bogor. Dari
Bogor Jarnpang menumpang kereta api Buitenzorg-Batavia turun di Depok.
Pamannya sangat gembira menyambut kedatangan Jampang yang telah berbulan
lamanya meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu silat. Oleh pamannya,
Jampang diminta meneruskan menuntut ilmu mengaji. Jampang dengan patuh
memenuhi permintaan mamangnya. Berkat ketekunan dan kepatuhan untuk
menuntut ilmu mengaji, Jampang dengan mudah menyerap ilmu mengaji yang
diajarkan gurunya. Gurunya menjadi sayang kepadanya, selama menuntut ilmu
mengaji, Jampang juga membantu mamangnya dan guru ngajinya mengerjakan
sawah.

Adegan 2

Setelah merasa cukup memiliki bekal ilmu dan usianya telah menanjak
dewasa menjadi seorang pemuda, Jampang merasa sudah saatnya tidak
bergantung lagi dengan mamangnya. Jampang menyampaikan keinginannya
untuk merantau ke Betawi.

Paman : Kalo emang lu pengen merantau, lu mesti bawa diri, biar orang
laen seneng ame lu. ( mamangnya menasehati )

Jampang : Aye mang !

Jampang berangkat ke Betawi, memulai kehidupan mandiri. Di Betawi


Jarnpang menuju salah seorang ternan mamangnya di Kebayoran Lama. la
diterima menetap dirumah tersebut. Sebagai penumpang, Jampang membantu si
empunya rumah berkebun serta berdagang buah di pasar Tanah Abang.

Suasana Kebayoran Lama tempat Jampang menetap di bawah kekuasaan tuan


tanah dengan centeng centengnya yang setiap bulan datang menagih pajak
kepada penduduk. Bila penduduk tidak punya uang untuk membayar pajak, para
centeng tak segan-segan mengambil harta milik yang ada di rumah penduduk.
Ada kambing yang terlihat di kandang akan diambil. Keadaan bisa lebih buruk lagi,
para centeng akan memukuli orang yang tidak bisa membayar pajak.

Jampang menyaksikan perilaku para centeng yang tidak punya perikemanusiaan


kepada penduduk. Timbul keinginan untuk menantang para centeng, tapi
Jarnpang masih berpikir akan nasib orang yang ditumpanginya. Jampang
mengamati dengan cermat wajah para centeng dan bertekad akan membalas
perbuatan mereka dikemudian hari.

Adegan 3

Selama menumpang dirumah itu, Jampang berkenalan dengan gadis


kampung tersebut. Jampang menjalin tali kasih dengan wanita di kampung itu,
kemudian berniat membina rumah tangga. Jampang menyampaikan isi hatinya
wanita tersebut setuju, kemudian si empunya rumah diminta untuk melamar
orangtua wanita tersebut.

Si Jampang : Sari, selama aku tinggal di sini, aku semakin menyadari betapa
luar biasanya dirimu. Kau bukan hanya baik hati, tetapi juga cerdas dan penuh
pengertian. ( menatap tulus )

Sari: (tersenyum lembut)

Aku juga merasa beruntung bisa mengenalmu, Jampang. Selama kau di sini,
kau telah menunjukkan sikap yang baik dan tulus.
Si Jampang: Sari, aku datang dari jauh dan telah melewati banyak hal.
Namun, yang paling aku inginkan sekarang adalah memiliki kebahagiaan dan
kedamaian dalam hidupku. Aku ingin berbagi kebahagiaan itu denganmu.

Sari: (menatap Si Jampang dengan lembut)

Jampang, aku juga merasa bahagia saat bersamamu. Apa yang kau katakan
sangat berarti bagiku.

Si Jampang: Sari, aku ingin mengajukan sebuah permohonan. Aku ingin


membina rumah tangga bersamamu, menjalani hidup bersama dan berbagi
segala suka dan duka. Apakah kau bersedia menerima lamaran ini? ( berdiri
memegang tangan sari )

Sari: (tersenyum bahagia)

Jampang, aku siap untuk itu. Aku merasa kita cocok dan saling memahami.
Aku akan mendukung keputusanmu sepenuhnya.

(Sari mengangguk dengan penuh keyakinan. Si Jampang kemudian


berpaling ke arah Ibu dan Bapak Sari.)

Si Jampang: Yang Terhormat Ibu dan Bapak Sari, aku memohon izin untuk
membina rumah tangga dengan putri kalian. Selama aku tinggal di sini, aku telah
melihat betapa baiknya Sari, dan aku berjanji akan menjaga dan mencintainya
dengan sepenuh hati.
Ibu Sari: (tersenyum lembut)

Jampang, kami telah melihat sikap baikmu selama tinggal di sini. Jika kau
benar-benar serius dan tulus, kami akan memberikan restu kami.

Bapak Sari: Jampang, keputusan ini bukanlah perkara ringan. Namun, jika
kau benar-benar berniat baik dan siap untuk tanggung jawab tersebut, kami akan
memberikan izin. Cintai dan hormati Sari seperti yang kau janjikan. (dengan sikap
bijaksana)

Si Jampang: (mengangguk penuh rasa syukur)

Terima kasih, Ibu dan Bapak. Aku akan menjaga dan merawat Sari dengan
sepenuh hati.

Sari: (mendekat dan memeluk Si Jampang)

Terima kasih, Jampang. Aku percaya pada keputusan ini dan berharap kita
akan membangun masa depan yang bahagia bersama.

Jampang menikah dengan gadis Kebayoran Lama dan pindah menetap


dirumah mertuanya. Oleh mertuanya, Jampang diberi sebidang tanah untuk
digarap. Bersama isterinya, Jampang menggarap tanah, menanami lahan dengan
bibit padi, kacang dan kelapa. Selain menggarap tanah, Jampang juga menjual
hasil kebun mertuanya ke pasar Tanah Abang. Isterinya hamil kemudian
melahirkan seorang anak laki-laki diberi nama Jampang muda. Wajah anaknya
sangat mirip dengan dirinya, ibarat pinang dibelah dua. Jampang sangat gembira,
kegembiraan yang tidak terkatakan. Setiap selesai bekerja di kebun atau menjual
hasil kebun di pasar, Jampang selalu bercanda dengan anaknya.

Adegan 4
Sekalipun Jampang memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi ia pun terkena
tagihan dari centeng tuan tanah Kebayoran. Sebenarnya Jampang ingin melawan,
tetapi memikirkan anaknya yang masih disusui isterinya
Jampang mengalah, membiarkan para centeng beraksi didepan matanya.

Para centeng : Mane pajak lu, cepat ! . ( hardik centeng padanya ).

Jampang : Ini bang!. ( Jampang menyerahkan uang beberapa sen pada


centeng tersebut ).

Para centeng : Lu memang penduduk yang taat.

Jampang : Aye bang. ( Pura-pura bodoh).

Adegan 5

Ketika anaknya berusia 4 tahun, isterinya meninggal dunia. Jampang sangat


sedih dengan kepergian isterinya. Ditatapnya mata anaknya yang kini tidak beribu
lagi, mertuanya datang menggendong anaknya sarnbil berkata.

Enyak : Biarlah dia ame kami disini Pang.

Jampang : Aye nyak.

Enyak : Lu mau kemane Pang ?

Jampang : Tanah abang nyak

Jampang menitipkan anaknya kepada mertuanya, ia pergi ke Tanah Abang.


Jampang memutuskan untuk mengambil kembali hak miliknya dan hak milik
mertuanya serta penduduk yang diambil oleh para tuan tanah dan centeng secara
sewenang-wenang. Jampang pergi ke Tanah Abang sambil melewati rumah para
tuan tanah dan orang-orang kaya serta rumah para centeng. Sungguh sangat
berbeda, rumah mereka penuh dengan perabotan mahal. Dari mana lagi kalau
bukan dari hasil memeras penduduk.

Jampang di pasar Tanah Abang sampai menjelang Ashar. Kemudian pergi ke


rumah seorang tuan tanah, mengamati dengan cermat keadaan rumah, berapa
centeng yang menjaga, bagaimana jalan masuk yang tepat. Setelah itu Jampang
pergi ke langgar, menunggu sambil sholat Maghrib dan Isya.

Imam & Ustadz : Anak mane ?

Jampang : Aye Jampang pak imam, aye dari Kebayoran Lama

Imam : Ada keperluan ape singgah ke sini ?

Jampang : Aye pengen ngambil milik aye yang dirampok tuan tanah.

Ustadz : Hati-hati nak banyak jagoannya.

Jampang : Kan anye ada penolongnya.

Imam : Siape ?

Jampang : Nyang di atas, Allah.

Imam langgar geleng kepala. Jampang segera mengambil wudhu dan azan
Maghrib. Kemudian shalat Maghrib berjamaah.

Selesai sholat, imam langgar mengajak Jampang makan di rumahnya.


Jampang tidak menolak, mengikuti imam langgar menuju rumah imam langgar.
Sambil jalan imam langgar berkata…

Imam : Malam ini ada pertunjukan di kampung sebelah, biasanye lewat Isya
para centeng dan tuan tanah pergi

Jampang : Terimakasih pak

Adegan 5

Setelah sholat Isya, Jampang bergerak perlahan mendekati rumah tuan


tanah. Dari kejauhan terlihat kerumunan orang. Para centeng dengan golok di
pinggang sambil menyulut rokok sebagian duduk, sebagian berdiri. Kemudian
keluar seorang yang barangkali tuan tanah. Kemudian kerumunan itu pergi dari
rumah itu menuju ke kampung sebelah menonton pertunjukan Gambang
Kromong.
Jampang dengan cermat mengawasi kepergian tuan tanah dan para centengnya.
Setelah mereka berlalu beberapa saat, Jampang masih tetap di tempatnya untuk
mengawasi keadaan rumah. kemudian keluar seorang lelaki, menutup pintu pagar
lalu masuk kembali ke dalam rumah. Jampang bergerak perlahan-lahan sambil
mengawasi keadaan sekitarnya. Suasana sepi, gemerisik angin dan suara jangkrik
memecah kesunyian malam. Jampang melompati pagar rumah tuan tanah,
kemudian merangsek maju mendekati jendela, menempelkan telinga pada kayu
dan jendela. Terdengar suara perempuan sedang berbincang-bincang didalam
rumah.

Perempuan muda : Nyak, kalung aye belon juge dibeliin kapan nyak ?
( terdengar suara perempuan muda, mungkin anak tuan tanah )

Si enyak : ntar kalo si Rochim ame babe lu, pasti lu punya kalung juga. ( ujar
perempuan tua, mungkin isteri tuan tanah ).

Perempuan muda : Babe sih seneng ingkar janji, bukannya beliin untuk aye,
tapi buat gendak-gendaknya.

Si enyak : Kagak bener lu omongin babe lu, durhaka nak.

Perempuan muda : Biarin, abisnye aye kagak dibeliin gelang.

Jampang bergeser ke jendela lainnya, memasangkan telinga untuk


mendengar, tak ada suara apa-apa, mungkin sudah tidur. Dengan perlahan-lahan
menggunakan tenaga dalam, Jarnpang membuka jendela lalu melompat masuk.
Seorang lelaki yang sedang tidur ayarn tersentak bangun, Jampang dengan sigap
membekuk laki-laki itu untuk tidur Kembali.

Sebuah pukulannya membuat lelaki itu terkulai layu tak


berdaya. Jampang kemudian bergerak kekamar tidur tuan tanah. Tangannya
mengetuk pintu perlahan-lahan, terdengar suara panggilan dari dalarn karnar.

Anda mungkin juga menyukai